Mengenal Power Divider dan Directional Coupler: Komponen Penting dalam Sistem Microwave dan Telekomunikasi Modern
Sifat Dasar Pembagi dan Pengganda
Jaringan Tiga Port (T-Junction)
| Gambar 3 Dua jenis sirkulator dan matriks hamburannya. (a) Sirkulasi searah jarum jam. (b)Sirkulasi berlawanan arah jarum jam. Referensi fase untuk port bersifat arbitre |
Gambar 4 Jaringan tiga port tanpa kehilangan timbal balik yang dicocokkan pada port 1 dan 2.
Jaringan Empat Port (Kopler Terarah)
Gambar 5 Dua simbol yang umum digunakan
untuk kopler arah dan konvensi aliran daya.
- Daya disalurkan ke Port 2 (Through) dengan koefisien [S12]² = α².
- Daya dikopel ke Port 3 (Coupled) dengan faktor [S13]² = β².
- Idealnya, tidak ada daya yang disalurkan ke Port 4 (Isolated).
- Coupling (C): Mengukur fraksi daya yang dikopel ke Port 3.
- Directivity (D): Mengukur kemampuan isolasi antara gelombang maju dan mundur. Coupler ideal memiliki D = ∞.
- Isolation (I): Mengukur daya yang disalurkan ke Port 4 yang terisolasi. Coupler ideal memiliki I = ∞.
- Insertion Loss (L): Mengukur daya yang hilang ke Port 2 (Through).
- Quadrature Hybrid (90°): Contoh dari Symmetric Coupler, memiliki pergeseran fase 90° antara port 2 dan 3. Matriks S-nya adalah:
- Magic-T dan Rat-Race Hybrid (180°): Contoh dari Antisymmetric Coupler, memiliki perbedaan fase 180° antara port 2 dan 3 saat diberi daya di port 4. Matriks S-nya adalah:
Power Divider (Pembagi Daya)
·
Pembagi daya sambungan T
Pembagi
daya sambungan T merupakan bentuk paling sederhana dari jaringan tiga port yang
digunakan untuk membagi sinyal dari satu saluran menjadi dua keluaran. Struktur
dasarnya menyerupai huruf 'T', di mana satu port berfungsi sebagai input dan
dua lainnya sebagai output. Jenis pembagi ini banyak digunakan karena desainnya
mudah direalisasikan, baik pada sistem microstrip, waveguide, maupun coaxial.
Apabila saluran diasumsikan lossless atau impedansi karakteristiknya real, maka dapat disederhanakan menjadi:
Dalam praktik, jika tidak dapat diabaikan,
maka terdapat beberapa jenis kompensasi diskontinuitas atau elemen penyetelan
reaktif yang biasanya dapat digunakan untuk menghilangakn nilai imajiner,
setidaknya pada rentang frekuensi sempit.
| Gambar 9 Model Saluran transmisi pembagi sambungan T tanpa rugi-rugi |
Impedansi saluran keluaran Z₁ dan Z₂ dapat dipilih untuk
menyediakan berbagai daya rasio pembagian. Jadi, untuk saluran input 50Ω,
pembagi daya 3 dB (pembagian yang sama) dapat dibuat dengan menggunakan dua
jalur 100Ω. Jika diperlukan, transformator sperempat gelombang dapat digunakan
untuk mengembalikan impedansi saluran keluaran ke level yang diinginkan. Jika
saluran keluaran cocok, maka jalur input akan dicocokkan.
Keunggulan
utama jenis ini terletak pada efisiensinya yang tinggi dan struktur
rangkaiannya yang sederhana. Namun, berdasarkan teori scattering parameter,
pembagi sambungan T tidak memiliki isolasi antar port keluaran, yang artinya
sinyal dari satu port dapat memengaruhi port lainnya. Kondisi ini ditunjukkan
dengan nilai S₂₃ ≠ 0. Selain itu, performanya cenderung optimal hanya pada satu
frekuensi tertentu, sehingga kurang sesuai untuk aplikasi broadband.
Secara
keseluruhan, pembagi daya sambungan T cocok digunakan untuk sistem yang sederhana
dan bekerja pada satu frekuensi tetap, di mana kebutuhan efisiensi lebih
diutamakan dibandingkan kestabilan antar port.
·
Pembagi Resistif
Berbeda dari sambungan T, pembagi daya resistif menggunakan resistor sebagai elemen utama untuk membagi sinyal. Komponen resistif ini menyebabkan sebagian daya dari sumber tidak diteruskan ke port keluaran, melainkan terdisipasi menjadi panas. Oleh karena itu, jaringan ini termasuk ke dalam kategori lossy network
| Gambar 10 Pembagi daya resistif tiga port yang terbagi sama |
Jika
seluruh port diakhiri oleh impedansi karakteristik Z₀, maka impedansi
masukan dari pembagi daya ini dapat dihitung dengan:
Hasil
ini menunjukkan bahwa port masukan sudah matched terhadap sistem transmisi,
sehingga tidak menimbulkan pantulan sinyal. Karena struktur rangkaiannya
simetris, kedua port keluarannya juga akan memiliki kondisi yang sama.
Sehingga
efisiensi total jaringan hanya mencapai sekitar 50%. Setengah daya lainnya
hilang di resistor.
Keunggulan
utama pembagi resistif adalah seluruh port dapat matched sempurna tanpa
menyebabkan pantulan sinyal (S₁₁ = S₂₂ = S₃₃ = 0). Selain itu, karena
tidak bergantung pada panjang gelombang, performanya tetap stabil pada berbagai
frekuensi yang menjadikannya ideal untuk aplikasi broadband. Kekurangannya
adalah efisiensi yang rendah dan tidak adanya isolasi antar port keluaran S₂₃ = 0, sehingga sinyal
dari satu port dapat bocor ke port lainnya.
Dengan
demikian, pembagi resistif lebih sesuai digunakan dalam sistem pengujian RF
atau kalibrasi laboratorium, di mana kestabilan impedansi lebih penting
dibanding efisiensi transmisi daya.
· Wilkinson
Power Divider
Wilkinson
Power Divider merupakan pengembangan dari dua jenis sebelumnya dan dirancang
untuk menggabungkan semua kelebihannya. Jenis ini mampu memberikan matching
sempurna di semua port seperti pembagi resistif, namun tetap efisien dan
lossless seperti sambungan T, serta memiliki isolasi antar port keluaran.
| Gambar 11 Pembagi daya Wilkinson dengan pembagian yang sama dalam bentuk saluran mikrostrip |
Struktur
Wilkinson terdiri atas dua saluran transmisi λ/4 yang dihubungkan dengan satu resistor isolasi.
Berdasarkan hasil analisis even–odd mode, parameter utama rangkaian ini adalah:
Kedua
saluran λ/4 memiliki impedansi karakteristik sebesar √2 kali impedansi sistem, sementara resistor
penghubung antar port bernilai dua kali impedansi karakteristik.
Ketika salah satu port mengalami pantulan, energi pantul tersebut akan diserap oleh resistor isolasi, bukan diteruskan ke port lainnya. Kondisi ini menjamin isolasi yang baik antar keluaran, yang secara matematis ditunjukkan oleh S₂₃ = 0. Nilai S₁₁ = S₂₂ = S₃₃ = 0 menunjukkan bahwa seluruh port telah matched sempurna.
Keunggulan
utama Wilkinson Divider terletak pada efisiensinya yang sangat tinggi dan kemampuannya
menjaga kestabilan fasa antar keluaran. Jaringan ini juga hampir bebas rugi
pada kondisi ideal, karena daya pantul diserap resistor, bukan hilang di
saluran. Namun, desainnya lebih kompleks dan hanya bekerja optimal pada
frekuensi tertentu karena bergantung pada panjang λ/4. Selain itu,
kesalahan kecil pada nilai resistor atau dimensi saluran transmisi dapat
menurunkan performa isolasi.
Jenis
pembagi ini banyak digunakan pada sistem antena array, radar, serta perangkat
pengukuran frekuensi tinggi yang membutuhkan pembagian daya seimbang, efisien,
dan memiliki kestabilan antar port yang baik.
Directional Couplers:
Directional couplers adalah
komponen mikrowave pasif yang digunakan untuk pembagian daya atau penggabungan
daya. Dalam pembagian daya, sinyal masukan dibagi menjadi dua (atau lebih)
sinyal keluaran dengan daya yang lebih kecil, sementara penggabungan daya
menerima dua atau lebih sinyal masukan dan menggabungkannya di port keluaran.
Biasanya Directional couplers memiliki empat port yaitu meliputi input port,
through port, coupled port, dan isolated port.
Konsep inti dari directional
coupler sendiri ialah sinyal gelombang mikro yang merambat pada saluran
transmisi membawa medan listrik (E-field) dan medan magnet (H-field). Ketika
dua saluran transmisi diletakkan dalam jarak yang cukup dekat, sebagian energi
medan elektromagnetik dari satu saluran akan menginduksi tegangan dan arus pada
saluran lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai kopling elektromagnetik
(electromagnetic coupling).
Four-Port Networks (Directional Couplers)
Seperti
yang sudah di sebutkan sebelumnya, bahwa Directional Couplers memiliki 4
(empat) port, yang dimana setiap port memiliki peran spesifik yang saling berhubungan.
Keempat port ini tidak hanya berfungsi sebagai titik masuk dan keluar sinyal,
tetapi juga sebagai representasi arah aliran daya elektromagnetik dalam sistem.
Dalam kondisi ideal, aliran daya pada coupler bersifat terarah dan terisolasi,
sehingga hanya port-port tertentu yang aktif untuk arah rambat tertentu.
1.
Port
1 – Input Port
Berfungsi sebagai jalur masuk utama bagi
sinyal atau daya RF ke dalam sistem coupler. Sinyal yang dikirim ke port ini
akan terbagi menjadi dua bagian yaitu Sebagian besar daya akan diteruskan
menuju port 2 (Through Port) dan Sebagian kecil akan di hubungkan menuju port 3
(Coupled Port).
2.
Port
2 – Through Port
Port ini membawa sebagian besar daya yang
masuk dari Port 1, sehingga sinyal tetap dapat diteruskan ke sistem atau
perangkat berikutnya tanpa kehilangan yang signifikan.
3.
Port
3 – Coupled Port
Port yang di mana sebagian kecil daya dari
jalur utama dihubungkan keluar. Besarnya daya yang muncul di port ini
bergantung pada faktor kopling (coupling factor), yang umumnya bernilai antara
3 dB hingga 30 dB tergantung desain coupler.
4.
Port
4 – Isolated Port
Port yang idealnya tidak menerima daya
sama sekali bila sinyal datang dari Port 1.
Pada directional coupler ideal, hasil interferensi di dalam daerah kopling
membuat gelombang-gelombang pada arah ini saling meniadakan (interferensi
destruktif), sehingga daya di Port 4 mendekati nol.
Matriks penyebaran dari jaringan empat port timbal balik yang disesuaikan di semua port memiliki bentuk sebagai berikut:
Parameter
UItama Pada Directional Couplers
Operasi
dasar dari sebuah directional coupler dapat dijelaskan dengan bantuan Gambar dibawah, yang menunjukkan dua simbol yang umum digunakan untuk directional coupler
dan definisi portnya.
| Gambar 12 Dua simbol yang umum digunakan untuk menghubungkan arah dan konvensi aliran daya |
Besaran-besaran berikut umumnya digunakan untuk
menggambarkan penghubung arah:
1. Coupling Factor (C)
I= D+C dB
Jenis-Jenis Directional Coupler
| Gambar 13 Lange Coupler Tata letak dalam bentuk microstrip |
| Gambar 14 Lange
Coupler yang tidak dilipat |
Ilustrasi bentuk fisik microstrip coupler dan arah sinyal.
| Gambar 15 Berbagai geometri garis transmisi terhubung. (a) Garis transmisi terhubung (datar, atau terhubung tepi). (b) Garis transmisi terhubung (bertumpuk, atau terhubung sisi lebar). |
Kesimpulan
BIODATA


