1. Pendahuluan
Bab Tigabelas menjelaskan mengapa sebuah sinyal digital tidak cukup hanya 'ada', tetapi juga harus cukup jelas untuk dibedakan dari gangguan. Secara fisik, masalah utamanya adalah daya sinyal yang terbatas, adanya gangguan acak dari perangkat dan medium, adanya interferensi dari sinyal lain, serta keterbatasan bandwidth receiver. Jadi bab ini harus dibaca sebagai bab tentang batas fisik keterbacaan sinyal, bukan sekadar kumpulan istilah SNR, SINR, atau kapasitas.Alur berpikir bab ini adalah sebagai berikut. Noise berasal dari mekanisme fisik acak, terutama gerak acak muatan dan perangkat penerima. Bandwidth menentukan berapa banyak noise yang masuk ke receiver. Setelah itu kita membandingkan daya sinyal dengan noise melalui SNR, atau dengan gabungan interferensi dan noise melalui SINR. Dari sini baru muncul konsep noise figure, receiver sensitivity, kapasitas Shannon, serta trade-off desain pada sistem radio, fiber, dan IoT.

Gambar 13.1 Peta hubungan sumber noise, bandwidth, SNR/SINR, keputusan receiver, dan performa komunikasi.
2. Noise dan Interferensi
Noise adalah gangguan acak yang muncul dari proses fisik internal perangkat atau medium, walaupun tidak ada pemancar pengganggu yang sengaja mengirim sinyal. Contoh paling mendasar adalah noise termal akibat gerak acak pembawa muatan, shot noise pada perangkat semikonduktor, dan noise internal pada penguat. Interferensi berbeda dari noise: interferensi biasanya berasal dari sinyal lain yang nyata, misalnya pemancar tetangga, kanal berdekatan, switching converter, atau perangkat digital lain yang bocor ke receiver.
Perbedaan ini penting karena dampak fisiknya sama-sama memperburuk pembacaan data, tetapi mekanismenya berbeda. Noise cenderung diperlakukan sebagai komponen acak yang selalu ada, sedangkan interferensi sering bergantung pada lingkungan spektrum dan dapat berubah menurut waktu, lokasi, atau kepadatan pemakai. Pada receiver digital, keduanya mempersempit jarak aman antara simbol atau level keputusan, sehingga BER, PER, dan throughput memburuk ketika sinyal tidak lagi cukup menonjol terhadap gangguan.
Gambar 13.2 Spektrum sinyal pada domain frekuensi, noise floor, bandwidth receiver, dan contoh interferensi.
3. Signal-to-Noise Ratio
Signal-to-noise ratio (SNR) menyatakan seberapa besar daya sinyal dibandingkan daya noise yang masuk ke receiver. SNR bukan konsep yang berdiri sendiri; ia adalah hasil dari dua hal fisik yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu seberapa besar sinyal yang berhasil diterima dan seberapa besar noise yang berhasil lolos ke dalam bandwidth receiver. Secara linear, SNR ditulis sebagai:
SNR = ��
�
Dengan S adalah daya sinyal dan N adalah daya noise. Karena rentang dayanya sangat lebar, SNR hampir selalu dinyatakan dalam dB pada rekayasa komunikasi. Bentuk dB tidak mengubah makna fisiknya; ia hanya memudahkan pembacaan dan perhitungan.
SNR = 10log ( �� )
�� 10
�
Jika daya sinyal dan noise diketahui, rasio dapat dihitung lebih dahulu dalam bentuk linear, lalu diubah ke dB. Contoh sederhana berikut hanya menekankan cara membaca makna fisiknya:
1
SNR�� = 10log10 (0.001) = 30 dB
Nilai 30 dB berarti daya sinyal seribu kali daya noise. Namun SNR yang 'cukup' selalu bergantung pada konteks: modulasi yang lebih rapat, target BER yang lebih ketat, dan coding yang berbeda akan menuntut SNR minimum yang berbeda pula. Jadi SNR bukan angka bagus atau jelek secara mutlak; ia harus dibaca bersama jenis sistemnya.
4. SINR pada Sistem Radio dan Seluler
Pada sistem radio nyata, receiver tidak hanya menghadapi noise internal. Ada juga interferensi dari sel tetangga, kanal lain, atau sistem lain yang memakai spektrum berdekatan. Karena itu, pada jaringan radio dan seluler, ukuran yang lebih representatif sering kali adalah SINR, yaitu perbandingan daya sinyal terhadap gabungan interferensi dan noise:
SINR =
��
�� + ��
Dengan I adalah daya interferensi. Secara fisik, SINR memberi informasi lebih lengkap daripada SNR ketika spektrum tidak bersih, karena penurunan kualitas link dapat berasal dari pemancar lain walaupun noise internal receiver tidak berubah. Jika I dan N hendak dijumlahkan, keduanya harus lebih dahulu dinyatakan sebagai daya linear, bukan dB langsung.
Hubungan dengan parameter lapangan juga perlu jelas. RSSI hanya menyatakan daya total yang diterima dalam band tertentu, sehingga nilai RSSI tinggi belum tentu berarti link baik. Daya total itu bisa terdiri atas sinyal yang diinginkan ditambah interferensi dan noise. Karena itu, SNR atau SINR biasanya lebih dekat ke kualitas keputusan receiver, sedangkan BER, PER, dan throughput menunjukkan konsekuensi akhirnya pada kinerja data.
Gambar 13.9 Hubungan RSSI, pemisahan sinyal dan gangguan, pembentukan SNR/SINR, serta dampaknya pada performa error.
5. Noise Termal dan Bandwidth
Noise termal adalah dasar fisik mengapa setiap receiver mempunyai batas minimum kualitas. Pada material konduktif, pembawa muatan bergerak acak akibat energi panas. Gerak acak ini menghasilkan fluktuasi tegangan atau arus yang, dari sudut pandang sistem komunikasi, muncul sebagai noise. Jika bandwidth receiver adalah B, maka daya noise termal yang diterima dapat didekati dengan:
� = ���
Dengan k adalah konstanta Boltzmann, T adalah temperatur absolut dalam kelvin, dan B adalah bandwidth dalam hertz. Persamaan ini sangat penting karena memperlihatkan hubungan sebab-akibat yang sederhana: pada temperatur tetap, semakin lebar bandwidth yang dilewatkan filter, semakin besar daya noise total yang ikut masuk ke receiver.
Gambar 13.3 Hubungan sumber noise termal, densitas noise, dan kenaikan daya noise total saat bandwidth membesar.
Pada temperatur ruang sekitar 290 K, densitas noise termal sering didekati dengan nilai acuan tertentu pada satuan dBm/Hz. Nilai ini menggambarkan noise per satuan bandwidth, sehingga total noise baru diketahui setelah densitas tersebut diintegralkan atau dikalikan terhadap bandwidth yang dipakai receiver.
�0 ≈ −174 dBm/Hz
Karena itu, noise floor pada penerima sering dinyatakan langsung dalam dBm untuk bandwidth tertentu. Bentuk ini lebih praktis dipakai pada perhitungan link budget dan sensitivity:
���� ≈ −174 + 10log10(�)
Jika receiver tidak ideal, perangkat tersebut menambahkan noise tambahan yang diringkas oleh noise figure NF. Akibatnya, noise floor efektif yang benar-benar dilihat oleh bagian keputusan receiver menjadi lebih tinggi:
����,��� ≈ −174 + 10log10(�) + ��
Inilah alasan bandwidth selalu menjadi trade-off. Bandwidth yang lebih lebar memang membuka peluang data rate lebih besar, tetapi pada saat yang sama juga memperbesar daya noise yang masuk. Jadi peningkatan kapasitas tidak pernah datang gratis; ia dibayar dengan tuntutan daya sinyal, SNR, atau teknik penerimaan yang lebih baik.
6. Noise Figure
Noise figure menyatakan seberapa besar suatu perangkat atau receiver memperburuk kualitas sinyal terhadap noise. Secara fisik, noise figure membandingkan SNR sebelum perangkat dengan SNR sesudah perangkat. Jika suatu blok menambahkan noise internal, maka SNR keluaran akan lebih buruk daripada SNR masukan. Secara linear, noise factor ditulis sebagai:
� = S N R ��
SNR
���
Dalam praktik, noise figure biasanya dinyatakan dalam dB. Semakin kecil nilainya, semakin sedikit kerusakan SNR yang diperkenalkan oleh perangkat tersebut.
�� = 10log10(�)
Makna desainnya sangat penting: tahap awal receiver adalah tahap yang paling kritis. Jika sinyal sudah terlanjur memburuk pada tahap awal, penguat tahap berikutnya hanya akan memperbesar sinyal dan noise yang sama-sama sudah rusak. Karena itu, LNA diletakkan dekat antena dan diusahakan memiliki noise figure rendah serta gain yang cukup.
Gambar 13.4 Rantai receiver, posisi LNA, dan alasan tahap awal sangat menentukan SNR total. Untuk beberapa tahap perangkat, pengaruh gabungan noise factor dapat dihitung dengan persamaan Friis. Persamaan ini menunjukkan bahwa kontribusi tahap-tahap berikutnya diredam oleh gain tahap
awal:
������ = �1 +
�2 − 1
�
+ �3 − 1 + ⋯
� �
1 1 2
Jadi, korelasi antara gambar dan persamaan Friis adalah langsung: LNA pada awal rantai diberi penekanan karena F1 dan G1 paling memengaruhi noise total. Inilah dasar fisika dan rekayasa mengapa desain front-end RF sangat menentukan sensitivity sistem.
7. Receiver Sensitivity
Receiver sensitivity adalah daya sinyal minimum yang masih memungkinkan receiver membuat keputusan dengan kualitas tertentu. Sensitivity tidak ditentukan oleh satu faktor saja, tetapi merupakan
hasil gabungan noise floor, noise figure, dan SNR minimum yang dibutuhkan oleh modulasi dan target BER. Secara sederhana:
����� = ���� + SNR���
Dengan noise floor efektif menyatakan tingkat gangguan dasar yang sudah termasuk bandwidth dan noise figure, sedangkan SNR minimum menyatakan jarak aman yang masih diperlukan agar bit dapat diputuskan dengan benar. Dalam bentuk dBm, hubungan ini sering dipakai secara langsung dalam perancangan link.
�����,��� = ����,��� + SNR���,��
Jika bandwidth, NF, dan SNR minimum sudah diketahui, sensitivity dapat diestimasi. Contoh berikut menunjukkan bagaimana setiap istilah memiliki makna fisik yang berbeda tetapi dijumlahkan karena semuanya berada pada skala daya dB:
���� = −174 + 10log10(125000) + 6 ≈ −117 dBm
����� ≈ −117 − 10 = −127 dBm
Hasil sensitivity yang sangat rendah pada LPWAN seperti LoRa tidak muncul secara ajaib. Secara fisik, ia muncul karena bandwidth yang sempit menekan noise floor, sementara skema modulasi dan proses penerima memungkinkan pengambilan keputusan pada SNR yang sangat kecil. Jadi, 'sensitif' berarti receiver masih sanggup membaca sinyal lemah, bukan berarti daya pancarnya besar.
Gambar 13.7 Skala daya untuk menjelaskan hubungan noise floor, noise figure, SNR minimum, dan receiver sensitivity.
8. Bandwidth dan Trade-off Desain
Bandwidth adalah rentang frekuensi yang dilewatkan oleh kanal atau receiver. Dalam konteks bab ini, bandwidth harus dipahami ganda: ia menentukan seberapa banyak ruang frekuensi tersedia untuk membawa informasi, dan pada saat yang sama menentukan seberapa banyak noise total yang ikut tertangkap. Jadi bandwidth bukan hanya isu kapasitas, tetapi juga isu kualitas sinyal
Gambar 13.8 Perbandingan narrowband dan wideband dari sudut noise yang diterima dan kapasitas yang mungkin dicapai.
Secara umum, data rate yang lebih tinggi menuntut bandwidth lebih lebar atau efisiensi spektral yang lebih tinggi melalui modulasi orde besar. Namun modulasi orde besar membuat titik-titik konstelasi semakin rapat sehingga sistem memerlukan SNR lebih baik. Inilah akar trade-off desain komunikasi digital: kapasitas, bandwidth, daya, kompleksitas penerima, dan toleransi terhadap error saling terkait.
9. Kapasitas Shannon
C. E. Shannon merumuskan batas teoretis kapasitas kanal untuk kanal AWGN ideal. Makna fisiknya sangat mendalam: meskipun sinyal terganggu oleh noise, masih ada laju informasi maksimum yang secara teori dapat dicapai jika bandwidth dan SNR diketahui. Untuk kanal ideal tersebut, kapasitas maksimum ditulis:
� = �log2(1 + SNR)
Dengan C adalah kapasitas kanal dalam bit per detik, B adalah bandwidth dalam hertz, dan SNR harus dinyatakan dalam bentuk linear. Persamaan ini tidak memberi tahu kita modulasi apa yang harus dipilih, tetapi memberi batas atas yang tidak dapat dilampaui oleh sistem nyata
Gambar 13.5 Kurva kapasitas Shannon terhadap SNR dan penjelasan makna fisiknya.
Jika bandwidth dan SNR diketahui, kapasitas dapat dihitung sebagai patokan teoretis. Contoh berikut memperlihatkan bahwa kapasitas naik dengan cepat pada SNR kecil, lalu pertambahannya cenderung melambat pada SNR tinggi:
� = 106log2(1 + 10) ≈ 3.46 Mbps
Hasil ini perlu dibaca dengan hati-hati. Shannon capacity adalah batas ideal untuk kanal AWGN, sedangkan sistem nyata menghadapi fading, interferensi, coding overhead, keterbatasan hardware, dan protokol. Jadi kapasitas nyata biasanya berada di bawah nilai teoritis tersebut, tetapi persamaan Shannon tetap sangat penting sebagai kompas desain.
10. Energi per Bit dan E_b/N_0
Dalam komunikasi digital, kualitas link sering pula dinyatakan melalui energi per bit terhadap densitas noise, Eb/N0. Parameter ini berguna ketika kita ingin membandingkan dua sistem yang mungkin memiliki bandwidth berbeda, tetapi sama-sama mentransmisikan bit. Hubungan sederhananya dengan SNR adalah:
�� = SNR ⋅ �
�0 ��
Dengan Rb adalah laju bit. Makna fisiknya adalah bahwa SNR berbicara pada level daya di dalam bandwidth, sedangkan Eb/N0 berbicara pada energi yang tersedia untuk setiap bit dibandingkan dengan densitas noise. Karena itu, Eb/N0 sangat umum dipakai untuk membaca performa BER berbagai skema modulasi dan coding.
11. Studi Kasus: Link IoT Narrowband
Sebuah node IoT narrowband memakai bandwidth 125 kHz. Noise figure receiver adalah 6 dB dan SNR minimum yang diperlukan adalah -10 dB. Tujuan contoh ini adalah memperlihatkan korelasi langsung antara bandwidth, noise floor, NF, dan sensitivity, bukan sekadar mengerjakan hitung- hitungan.
Langkah pertama adalah mencari noise floor efektif. Noise floor dasar ditentukan oleh bandwidth, lalu dinaikkan oleh noise figure receiver:
����,��� = −174 + 10log10(125000) + 6
����,��� ≈ −117 dBm
Setelah noise floor efektif diperoleh, sensitivity dihitung dengan menambahkan SNR minimum yang masih dapat diterima oleh receiver:
�����,��� = ����,��� + SNR���,��
�����,��� ≈ −117 − 10 = −127 dBm
Contoh ini menjelaskan mengapa sistem narrowband sangat cocok untuk sensor jarak jauh berdaya rendah. Bandwidth sempit menurunkan noise floor, sehingga sinyal yang sangat lemah pun masih dapat diambil keputusannya bila modulasi dan receiver mendukung. Jadi keunggulan link jarak jauh di sini berasal dari fisika noise dan bandwidth, bukan semata-mata dari 'radio yang kuat'.
Gambar 13.6 Trade-off antara daya, bandwidth, noise/interferensi, modulasi, dan keputusan receiver.
12. Materi Pengayaan
Materi berikut tidak wajib dibahas penuh pada tatap muka, tetapi layak dijadikan bacaan mandiri untuk memperluas wawasan setelah konsep dasar bab ini dipahami:
1. noise shot pada fotodetektor;
2. phase noise pada osilator dan PLL;
3. adjacent channel interference;
4. coding gain;
5. link adaptation pada LTE/5G;
6. MCS dan hubungan dengan SINR;
7. noise pada optical amplifier;
8. kapasitas MIMO;
9. spectrum efficiency;
10. informasi dan entropi Shannon.
13. Ringkasan
Bab XIII menegaskan satu ide utama: performa sistem telekomunikasi digital dibatasi oleh kejelasan fisik sinyal terhadap gangguan. Noise berasal dari mekanisme acak perangkat dan medium; bandwidth menentukan berapa banyak noise yang ikut masuk; SNR dan SINR menyatakan kejernihan sinyal; noise figure menunjukkan kerusakan tambahan yang diperkenalkan receiver; receiver sensitivity merangkum batas penerimaan minimum; dan kapasitas Shannon menunjukkan batas teoretis laju informasi. Dengan rantai sebab-akibat ini, istilah-istilah pada bab ini tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk fondasi konseptual untuk modulasi digital, radio link, seluler, fiber optik, IoT, dan sistem komunikasi lanjutan.
14. Soal Latihan
- Daya sinyal 10 mW dan noise 0,01 mW. Hitung SNR linear dan dB.
- Konversikan SNR 20 dB menjadi rasio daya linear.
- Hitung noise termal pada 300 K dan bandwidth 1 MHz dalam watt dan dBm.
- Receiver pada soal sebelumnya memiliki noise figure 5 dB. Estimasikan noise floor efektif.
- Jika SNR minimum 10 dB, estimasikan receiver sensitivity dari noise floor sebelumnya.
- Hitung kapasitas Shannon untuk B=1 MHz dan SNR=20 dB.
- Hitung kapasitas Shannon untuk B=125 kHz dan SNR=10 dB.
- S=1 mW, I=0,10 mW, N=0,01 mW. Hitung SINR.
- Bandwidth berubah dari 1 kHz menjadi 1 MHz pada temperatur sama. Berapa kenaikan daya noise termal?
- Dua tahap receiver memiliki F1=2, G1=10, dan F2=4 (semua linear). Hitung noise factor total pendekatan Friis.
- Mengapa RSSI tinggi dapat disertai throughput rendah?
- Bedakan noise dan interferensi.
- Mengapa LNA ditempatkan dekat antena?
- Apa makna fisik kapasitas Shannon?
- Jelaskan trade-off memperlebar bandwidth terhadap kapasitas dan noise.
15. Pembahasan Soal
1. Pembahasan Soal 1
Diketahui:
Ditanya: SNR. Rumus/Ketentuan:
��
SNR =
�
; ���dB = 10log10(SNR)
Jawab:
Hasil akhir:
SNR adalah 1000 atau 30 dB.
2. Pembahasan Soal 2
Diketahui:
Ditanya: SNRlinear. Rumus/Ketentuan:
SNR = 1000; ���dB = 30dB
���dB = 20dB
�� � dB
Jawab:
��������� = 10 10
Hasil akhir:
SNR linear adalah 100.
3. Pembahasan Soal 3
Diketahui:
Ditanya: Pn. Rumus/Ketentuan:
Jawab:
SNR = 102 = 100
� = 1,380649 × 10−23�/�; � = 300�; � = 106Hz
�� = ���
�
�� ≈ 4,14 × 10−15�; 10log10 (
) ≈ −113,83dBm
Hasil akhir:
Noise termal ideal sekitar 4,14 fW atau −113,8 dBm.
4. Pembahasan Soal 4
Diketahui:
1mW
Ditanya: Neff. Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
��ℎ����� = −113,83dBm; NF = 5dB
���� (dBm) = ��ℎ����� + NF
���� ≈ −108,83dBm
Noise floor efektif sekitar −108,8 dBm.
5. Pembahasan Soal 5
Diketahui:
Ditanya: Sensitivity. Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
���� = −108,83dBm; ������ = 10dB
����� ≈ ���� + ������
����� ≈ −98,83dBm
Sensitivitas pendekatan sekitar −98,8 dBm.
6. Pembahasan Soal 6
Diketahui:
Ditanya: C. Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
� = 106Hz; ��������� = 100
� = � ���2(1 + ���)
� = 106log2(101) ≈ 6,66 × 106���/�
Kapasitas teoretis sekitar 6,66 Mbps.
7. Pembahasan Soal 7
Diketahui:
Ditanya: C. Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
� = 125000Hz; SNR = 10
� = � ���2(1 + ���)
� = 125000log2(11) ≈ 432000���/�
Kapasitas teoretis sekitar 432 kbps.
8. Pembahasan Soal 8
Diketahui:
Ditanya: SINR.
� = 1; � = 0,10; � = 0,01mW
Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
SINR sekitar 9,59 dB.
9. Pembahasan Soal 9
Diketahui:
Ditanya:
Rasio dan dB. Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
� SINR = (� + �)
SINR = 9,09 = 9,59dB
�2 = 1000
�1
� ∝ �; �dB = 10log ( �2 )
� 10 �1
����� = 1000; � = 30dB
Noise meningkat 1000 kali atau 30 dB.
10. Pembahasan Soal 10
Diketahui:
Ditanya: Ftotal. Rumus/Ketentuan:
�1 = 2; �1 = 10; �2 = 4
( �2 − 1 )
Jawab:
������ = �1 +
1
3
Hasil akhir:
������ = 2 + 10 = 2,3; NF = 10log10(2,3) ≈ 3,62dB
Noise factor total 2,3 atau sekitar 3,62 dB.
11. Pembahasan Soal 11
Diketahui:
RSSI mengukur daya total, bukan hanya sinyal diinginkan. Ditanya:
Penjelasan. Rumus/Ketentuan:
Jawab:
� SINR = (� + �)
Jika interferensi tinggi, RSSI dapat tinggi tetapi SINR rendah sehingga modulasi/coding turun dan retransmisi meningkat.
Hasil akhir:
RSSI saja tidak cukup untuk menilai kualitas kanal.
12. Pembahasan Soal 12
Diketahui:
Keduanya mengganggu deteksi sinyal. Ditanya:
Perbedaan sumber. Rumus/Ketentuan:
����� ������� ������ ���� ��������
/������; ������������ ������� ���� ������ ���� ���� ����� ����������.
Jawab:
Interferensi dapat memiliki struktur/frekuensi tertentu, sedangkan noise sering dimodelkan stokastik.
Hasil akhir:
Noise dan interferensi berbeda sumber dan cara mitigasinya.
13. Pembahasan Soal 13
Diketahui:
Noise tahap awal sangat berpengaruh pada NF total. Ditanya:
Alasan penempatan.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
��������� �����.
Gain awal yang cukup dan NF rendah mengurangi kontribusi noise tahap berikutnya; rugi kabel sebelum LNA langsung memperburuk sistem.
Hasil akhir:
LNA dekat antena membantu mempertahankan SNR receiver.
14. Pembahasan Soal 14
Diketahui:
Ditanya: Interpretasi. Rumus/Ketentuan:
� = �log2(1 + SNR)
�����
Jawab:
Untuk B dan SNR tertentu, laju data arbitrarily reliable tidak dapat melampaui C tanpa melanggar asumsi teorema.
Hasil akhir:
Shannon memberi batas teoretis, bukan throughput praktis otomatis.
15. Pembahasan Soal 15
Diketahui:
Ditanya: Dampak B. Rumus/Ketentuan:
�� = ������� = �log2(1 + SNR)
��������ℎ ����ℎ ����� ��������� ����� ������ ���� ����������� ������� ��������� ����ℎ ������.
Jawab:
Jika daya sinyal tetap, SNR dapat turun ketika B naik; kapasitas total tetap dapat meningkat tetapi tidak linear tanpa batas.
Hasil akhir:
Desain bandwidth harus mempertimbangkan noise, daya, dan target data rate.
16. Daftar Referensi
[1] C. E. Shannon, “A Mathematical Theory of Communication,” The Bell System Technical Journal, vol. 27, pp. 379-423 dan 623-656, 1948. Tautan resmi/arsip: https://people.math.harvard.edu/~ctm/home/text/others/shannon/entropy/entropy.pdf atau arsip BSTJ lain.
[2] National Institute of Standards and Technology (NIST), “CODATA Value: Boltzmann constant.” https://physics.nist.gov/cgi-bin/cuu/Value?k=
[3] International Telecommunication Union, “Recommendation ITU-R P.372: Radio noise.”
https://www.itu.int/rec/R-REC-P.372
[4] Keysight Technologies, “Noise Figure Measurement Application Note / Technical Overview.”
https://www.keysight.com
[5] S. Haykin, Communication Systems, 4th ed. New York: Wiley, 2001.
[6] B. P. Lathi and Z. Ding, Modern Digital and Analog Communication Systems, 4th ed. Oxford
University Press, 2009.