1. Pendahuluan
Bab Sembilan ini membahas cara gelombang elektromagnetik berinteraksi dengan batas medium, penghalang, celah, permukaan, dan struktur lingkungan. Pada sistem telekomunikasi digital, sinyal jarang merambat pada ruang bebas ideal. Gelombang radio dapat dipantulkan oleh gedung, dibiaskan oleh atmosfer, terdifraksi oleh tepi bangunan atau bukit, dihamburkan oleh objek kecil, dan tiba di penerima melalui banyak lintasan. Pada sistem optik, cahaya mengalami refleksi dan refraksi pada batas core–cladding, serta dapat mengalami polarisasi dan interferensi pada perangkat
Gambar 9.1 Peta kontribusi interaksi gelombang terhadap mata kuliah telekomunikasi.
Untuk tatap muka 100 menit (2 × 50 menit), bab ini tidak diarahkan menjadi pembahasan optika fisis yang mendalam. Tujuannya adalah membekali kita dengan bahasa fisika yang akan muncul kembali dalam Antena, Sistem Komunikasi Radio, Sistem Komunikasi Seluler, Sistem Komunikasi Satelit dan Radar, Saluran Transmisi dan Gelombang Mikro, serta Sistem Komunikasi Fiber Optik.
2. Refleksi Gelombang
Refleksi terjadi ketika gelombang mengenai batas antara dua medium atau permukaan yang menyebabkan sebagian energi kembali ke medium asal. Pada optika geometris, hukum refleksi menyatakan bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul [2]
3. Refraksi dan Hukum Snell
4. Difraksi
Pada sistem radio, difraksi membantu menjelaskan mengapa sinyal masih dapat diterima di belakang bukit, gedung, atau penghalang lain. Namun, difraksi juga menyebabkan tambahan rugi-rugi. Dalam perencanaan link radio, model difraksi digunakan untuk memperkirakan loss ketika lintasan tidak sepenuhnya bebas penghalang. Rekomendasi ITU-R P.526 membahas propagasi melalui difraksi untuk keperluan perencanaan radiowave [5].
Secara kualitatif, semakin besar penghalang terhadap zona rambat gelombang, semakin besar rugi-rugi difraksi. Karena itu, desain radio link tidak cukup hanya melihat garis lurus antara pemancar dan penerima, tetapi juga harus memperhatikan clearance zona Fresnel.
5. Interferensi
Untuk dua gelombang sinusoidal dengan amplitudo sama, beda fase ��� menentukan penguatan atau pelemahan resultan. Syarat interferensi konstruktif ideal dapat ditulis sebagai:
6. Polarisasi
Jenis polarisasi yang umum dibahas adalah polarisasi linear horizontal, linear vertikal, circular, dan elliptical. Pada sistem radio sederhana, antena vertikal akan paling efektif menerima sinyal berpolarisasi vertikal. Jika antena penerima diputar 90 derajat dari polarisasi pemancar, daya yang diterima dapat turun drastis.
7. Multipath dan Fading
8. Zona Fresnel
9. Scattering, Absorpsi, dan Loss
Gambar 9.9 Scattering dan absorpsi gelombang.
Pada frekuensi microwave dan gelombang milimeter, hujan dapat menghasilkan redaman yang signifikan. Rekomendasi ITU-R P.838 memberikan model redaman spesifik akibat hujan untuk metode prediksi propagasi [13]. Pada fiber optik, scattering Rayleigh dan absorpsi material adalah penyebab utama redaman intrinsik. Karena itu, konsep scattering dan absorpsi menjadi jembatan antara sistem radio dan sistem fiber.
Redaman sebagai besaran positif dapat ditulis sebagai:
���
��� = 10log10 ( )
���
Jika yang digunakan adalah perubahan daya bertanda, maka:
��� �
Sehingga:
��� = 10log10 ( )
��
��� = −���
10. Studi Kasus: Antena Salah Polarisasi
Sebuah link radio menggunakan antena pemancar vertikal dan antena penerima yang tidak sengaja dipasang dengan orientasi mendekati horizontal. Secara fisika, antena penerima tidak lagi sejajar dengan medan listrik sinyal yang datang. Akibatnya, daya yang diterima turun meskipun jarak, frekuensi, dan daya pancar tidak berubah.
Kasus ini menunjukkan bahwa troubleshooting link radio tidak cukup hanya memeriksa daya pancar. Teknisi juga perlu memeriksa orientasi antena, line-of-sight, penghalang zona Fresnel, multipath, konektor, kabel, dan lingkungan sekitar.
11. Materi Pengayaan
Materi berikut tidak wajib dibahas penuh pada tatap muka 100 menit (2 × 50 menit), tetapi dapat dijadikan bacaan mandiri:
- koefisien refleksi Fresnel;
- difraksi knife-edge secara matematis;
- fading Rayleigh dan Rician;
- delay spread dan coherence bandwidth;
- model propagasi empiris pada system seluler;
- polarisasi silang dan isolasi antena;
- scattering Rayleigh pada fiber optik.
12. Ringkasan
Bab ini memperkenalkan fenomena fisika yang menjelaskan mengapa sinyal telekomunikasi tidak selalu merambat secara ideal. Refleksi, refraksi, difraksi, interferensi, polarisasi, scattering, dan multipath menentukan kualitas link radio maupun optik. Untuk kita Jaringan Telekomunikasi Digital, pemahaman konseptual bab ini menjadi prasyarat penting bagi Antena, Sistem Radio, Sistem Seluler, Satelit dan Radar, Fiber Optik, serta troubleshooting jaringan.
13. Soal Latihan
- Sudut datang gelombang terhadap normal adalah 35°. Tentukan sudut pantul.
- Cahaya dari udara (n1=1,00) masuk kaca (n2=1,50) dengan sudut datang 30°. Hitung sudut bias.
- Hitung sudut kritis dari medium n1=1,50 ke udara n2=1,00.
- Hitung panjang gelombang sinyal Wi-Fi 2,4 GHz.
- Dua lintasan memiliki beda panjang tepat satu panjang gelombang. Jenis interferensi ideal apa yang terjadi?
- Dua lintasan memiliki beda panjang λ/2. Jenis interferensi ideal apa yang terjadi?
- Antena linear memiliki mismatch polarisasi 60°. Hitung faktor daya dan loss polarisasi.
- Daya masuk 10 mW dan daya keluar 2 mW. Hitung redaman positif dalam dB.
- Hitung jari-jari zona Fresnel pertama di titik tengah link 10 km pada 2,4 GHz.
- Mengapa sinyal masih dapat diterima di balik tepi gedung meskipun LoS terhalang?
- Mengapa level Wi-Fi dapat berubah walaupun perangkat hanya bergerak beberapa sentimeter?
- Mengapa hujan makin penting pada link microwave frekuensi tinggi?
- Berikan satu contoh scattering pada radio dan satu pada fiber.
- Jelaskan pengaruh refraksi atmosfer terhadap lintasan microwave.
- Jika RSSI turun karena antena penerima diputar 90° terhadap antena pemancar linear, apa penyebab fisik pertama yang perlu diperiksa?
14. Pembahasan Soal
1. Pembahasan Soal 1
Diketahui: 𝜃𝑖 = 35°
Ditanya: θr.
Rumus/Ketentuan: 𝜃𝑟 = 𝜃𝑖
Hasil akhir: Sudut pantul adalah 35° terhadap normal.
2. Pembahasan Soal 2
Diketahui: 𝑛1 = 1,00; 𝑛2 = 1,50; 𝜃1 = 30°
Ditanya: θ2.
Rumus/Ketentuan: 𝑛1sin𝜃1 = 𝑛2sin𝜃2
Jawab: sin𝜃2 = (1/1,5) sin30∘ = 1/3; 𝜃2 ≈ 19, 47∘
Hasil akhir: Sudut bias sekitar 19,5°.
3. Pembahasan Soal 3
Diketahui: 𝑛1 = 1,50; 𝑛2 = 1,00
Ditanya: θc.
Rumus/Ketentuan: sin𝜃𝑐 = 𝑛2/𝑛1
Jawab: 𝜃𝑐 = sin−1(1/1,5) ≈ 41, 81∘
Hasil akhir:
Sudut kritis sekitar 41,8°.
4. Pembahasan Soal 4
Diketahui:
Ditanya: λ. Rumus/Ketentuan:
1,5
� = 2,4GHz; � = 3 × 108�/�
Jawab:
Hasil akhir:
� = 0,125�
Panjang gelombang adalah 12,5 cm.
5. Pembahasan Soal 5
Diketahui:
Ditanya: Jenis interferensi. Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Untuk � = 1, beda fase = 2� sehingga gelombang tiba sefase. Hasil akhir:
Terjadi interferensi konstruktif ideal.
6. Pembahasan Soal 6
Diketahui:
Ditanya: Jenis interferensi.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Untuk � = 0, beda fase = �. Hasil akhir:
��������������� = (� + ) �
2
Terjadi interferensi destruktif ideal.
7. Pembahasan Soal 7
Diketahui: ψ=60°. Ditanya:
Faktor daya dan Lpol.
Rumus/Ketentuan:
Jawab: Hasil akhir:
PLF = cos2�; ���� = −10log10(PLF)
PLF = cos260∘ = 0,25; ���� = −10log10(0,25) = 6,02dB
Hanya 25% daya ideal terkopel; loss sekitar 6,0 dB.
8. Pembahasan Soal 8
Diketahui:
Ditanya: A. Rumus/Ketentuan:
��� = 10mW; ���� = 2mW
Jawab:
� = 10log10 ( )
���
Hasil akhir: Redaman adalah sekitar 7,0 dB.
9. Pembahasan Soal 9
Diketahui:
� = 10log10(5) = 6,99dB
Ditanya:
r1.
�1 = �2 = 5km = 5000�; � = 0,125�; � = �1 + �2 = 10000�
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
�1 = √(�
Hasil akhir:
0,125 × 5000 × 5000
≈ 17,68�
10000
Jari-jari Fresnel pertama di titik tengah sekitar 17,7 m.
10. Pembahasan Soal 10
Diketahui:
Ada tepi penghalang pada lintasan. Ditanya:
Fenomena fisika.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
������� ��������.
Gelombang menyebar/membelok di sekitar tepi sehingga sebagian energi mencapai area bayangan. Hasil akhir:
Penerimaan NLoS sebagian dapat dijelaskan oleh difraksi.
11. Pembahasan Soal 11
Diketahui:
Lingkungan memiliki pantulan multipath.
Ditanya: Penyebab fluktuasi.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Perpindahan kecil mengubah beda lintasan relatif terhadap λ sehingga resultan
konstruktif/destruktif berubah. Hasil akhir:
Fluktuasi cepat dapat berasal dari multipath fading.
12. Pembahasan Soal 12
Diketahui:
Tetes hujan berinteraksi dengan gelombang. Ditanya:
Dampak frekuensi.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Ketika panjang gelombang makin sebanding dengan ukuran tetes, interaksi dan penyerapan menjadi lebih signifikan.
Hasil akhir:
Hujan dapat menambah attenuation pada microwave, khususnya pita lebih tinggi.
13. Pembahasan Soal 13
Diketahui:
Scattering adalah penyebaran energi oleh ketidakseragaman/objek. Ditanya:
Contoh.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Radio: penyebaran oleh pepohonan/permukaan kasar. Fiber: Rayleigh scattering oleh fluktuasi mikroskopik indeks bias.
Hasil akhir:
Scattering terjadi pada radio maupun serat optik dengan mekanisme fisik sesuai mediumnya.
14. Pembahasan Soal 14
Diketahui:
Indeks bias atmosfer berubah dengan ketinggian. Ditanya:
Dampak lintasan. Rumus/Ketentuan:
Jawab:
Perubahan bertahap indeks bias membelokkan lintasan gelombang sehingga lintasan efektif dapat sedikit melengkung.
Hasil akhir:
Refraksi atmosfer mengubah geometri coverage dan clearance.
15. Pembahasan Soal 15
Diketahui:
Antena linear awalnya cocok lalu diputar 90°. Ditanya:
Penyebab penurunan level.
Rumus/Ketentuan:
Jawab:
PLF = cos2�
Untuk � = 90∘ , model ideal memberi PLF = 0 . Sistem nyata masih menerima karena cross- polarization dan multipath.
Hasil akhir: Penyebab utama adalah mismatch polarisasi.
15. Daftar Referensi
[1] BIPM, The International System of Units (SI), 9th ed., Bureau International des Poids et
Mesures. Tautan: https://www.bipm.org/en/publications/si-brochure
[2] OpenStax, University Physics Volume 3, Rice University. Tautan:
https://openstax.org/details/books/university-physics-volume-3
[3] NASA, Introduction to the Electromagnetic Spectrum. Tautan:
https://science.nasa.gov/ems/01_intro/
[4] ITU-R, Recommendation ITU-R P.525: Calculation of free-space attenuation. Tautan:
https://www.itu.int/rec/R-REC-P.525
[5] ITU-R, Recommendation ITU-R P.526: Propagation by diffraction. Tautan:
https://www.itu.int/rec/R-REC-P.526
[6] ITU-T, Recommendation ITU-T G.650.1: Definitions and test methods for linear, deterministic attributes of single-mode fibre and cable. Tautan: https://www.itu.int/rec/T-REC-G.650.1
[7] ITU-T, Recommendation ITU-T G.652: Characteristics of a single-mode optical fibre and cable.
Tautan: https://www.itu.int/rec/T-REC-G.652
[8] G. Keiser, Optical Fiber Communications, McGraw-Hill. Tautan penerbit:
https://www.mheducation.com/
[9] G. P. Agrawal, Fiber-Optic Communication Systems, Wiley. Tautan penerbit: https://www.wiley.com/
[10] B. E. A. Saleh and M. C. Teich, Fundamentals of Photonics, Wiley. Tautan penerbit: https://www.wiley.com/
[11] C. A. Balanis, Antenna Theory: Analysis and Design, Wiley. Tautan penerbit: https://www.wiley.com/
[12] D. M. Pozar, Microwave Engineering, Wiley. Tautan penerbit: https://www.wiley.com/
[13] ITU-R, Recommendation ITU-R P.838: Specific attenuation model for rain for use in prediction methods. Tautan: https://www.itu.int/rec/R-REC-P.838